Inilah batok kelapa tua. Ditangan warga desa Tampaksiring, Gianyar, Bali, batok kelapa menjadi karya seni yang cantik dan menarik. Dikerjakan teliti dengan tangan, tiap gambar memiliki makna, seperti barong dan ramayana.
Dilla Hantika, penyiar Net5, “Yang saya coba ini mengukir diatas batok kelapa, batok kelapa ini cukup keras karena harus menggunakan batok kelapa yang sudah tua. Dan mengukirnya ini menggunakan pemutik yang cukup tajam, harus teliti dan juga hati-hati. Nanti setelah jadi, batok kelapa ini diukur seperti ini dalam bentuk ramayana atau juga barong. Prosesnya sekitar 1 bulan baru bisa cantik kayak gini.”
Bisa dijadikan tempat lilin dan lampu hias yang cantik, ukiran batok kelapa jadi seni turun temurun warga desa Tampaksiring.
Rane Wayan, pengrajin Batok Kelapa, “Ya sudah turun temurun ini. Kebanyaan bisa, khusus wong genake di Tampaksiring, Gunung Kawi kebanyak bisa mengukir batok kelapa. Yang ada di luar itu, karena dari sini ngirimnya.”
Begini prosesnya:
Kulit kelapa dikelupas dan dibuang kulitnya. Sebelum diukir, serabut kelapa diamplas dengan mesin. Setelah bebas dari serabut, baru dibuat pola. Meski hasilnya berbeda tak hanya dengan tangan, kinerja pengukiran batok kelapa juga bisa dengan mesin.
Dilla Hantika, penyiar Net5, “Nah ini yang tadi dibuat. Ini masih setengah jadi. Sebelumnya dibuat pola dulu seperti ini. Nanti setelah itu diukir. Dan nanti hasilnya seperti ini. Kalau yang menggunakan alat atau menggunakan mesin, biasanya motifnya lebih ke minimalis.” Karyanya yang unik dan cantik diminati wisatawan.
Patrick, wisatawan, “Bagus, sulit untuk buat karya sekecil ini. Kerajinan ini bagus untuk diletakkan di meja.”
Di nilai dari tingkat kesulian dalam hal pembuatan, batok kelapa dijual dengan harga Rp. 30 ribu hingga 200 ribu rupiah.
Video:
Foto: