Pages

Friday, March 9, 2018

Perajin Angklung Ditengah Gempuran Musik Modern - NET5


Berikut ini juga bagian dari kearifan lokal warga dan juga upaya kemandirian ekonomi. Seorang warga kabupaten Banyuwangi memproduksi angklung di tengah gempuran alat musik moderen. Setiap harinya pengrajin mampu membuat berbagai jenis angklung, peminatnya tidak hanya warga lokal, namun juga dari manca negara.

Lestarikan alat kesenian tradisional leluhur, Emaria, warga kelurahan bulusan, kecamatan kali puro, kabupaten Banyuwangi menggantungkan hidup sebagai pengrajin angklung. Bahan utama pembuatan Emaria dapatkan dari sekitar Banyuwangi, karena bambu banyak tumbuh di wilayah ini. Pembuatan dilakukan secara manual di rumahnya.

Sumaryanto, pemilik HW Dewe Craft


Bagi sebagian orang, cangkang telur dianggap sebagai limbah atau sampah yang tak bernilai. Namun di mata Sumaryanto dan istrinya, Amelina. Cangkah telur ternyata bisa dijadikan produk unik dan berjual nilai tinggi.

Mengusung “HW Dewe Craft” sebagai usahanya, Sumaryanto sadar untuk bisa bersaing dalam usaha tersebut, kunci utamanya adalah kreatifitas dan inovasi. Sehingga proses trial error yang dia lakukan saat awal pengembangan usaha tersebut dimanfaatkan sebaik-baiknya agar diperoleh hasil jadi produk yang berkarakter.

Kampung seni Jelekong. Dari sinilah lukisan di Braga berasal


Bagi warga Bandung tentu sudah tidak asing lagi dengan jalan Braga. Ya, braga merupakan kawasan yang cukup ikonik dengan suasana vintage nya. Braga juga sangat khas dengan banyak lukisan yang terpampang di sudutnya.

Tapi tahukah anda darimana lukisan yang terpampang di Braga ini berasal. Kampung seni Jelekong, dari sinilah lukisan yang sering anda lihat di Braga berasal. Kampung seni Jelekong terletak di jalan Kriuraharja, kelurahan Jelekong, kecamatan Baleendah, kabupaten Bandung. Kampung seni Jelekong merupakan kampung yang sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai pelukis.

Dadang Sukmana, pelukis di Kampung Jelekong

Bandung punya kampung yang penuh dengan para pelukis yang juga menjual karya-karyanya. Namanya Kampung Lukis Jelekong.  Ayo tonton dan sebarkan! Published on Oct 28, 2017.
Dadang Sukmana, pelukis di Kampung Jelekong

Pencinta seni tentu sudah tak asing dengan kampung lukis Jelekong yang ada di kecamatan Baleendah, Bandung.
Di sepanjang jalan banyak yang menjual beragam jenis lukisan. Salah satunya galeri milik Dadang Sukmana.
Ia menjual lebih dari 100 lukisan.Sejakan ia melukis dan berjualan di sini ?

Asep Sancang, tokoh pelukis di Jelekong


Salah satu jalan yang paling ikonik di Bandung ini sukses menambah pesona sang kota kembang. Jajaran kompleks pertokoan khas Hindia Belanda menjadi daya tarik utamanya. Satu lagi yang tak kalah menarik, beragam lukisan yang menghiasi dinding jalan.

Indra Lita, Bandung, Jawa Barat, “Buat anda yang pernah ke jalan Braga Bandung, pastinya enggak asing dengan jajaran lukisan yang ada disini. Dari sekian banyaknya lukisan yang ada di jalan Braga ternyata 70 persennya berasal dari 1 kampung, namanya Jelekong.”

Monday, March 5, 2018

Sutrisno, pemilik Gerajen Craft


Kalau usaha saya, lukisan serbuk kayu. Nama galeri saya, Gerajen Craft.

Kalau mulainya Gerajen craft itu 2004. Waktu itu sudah mulai cuman belum lukisan. Jadi masih produk-produk stasionary seperti itu. Seperti foto frame, tempat pensil, itu kemudian untuk lukisan mulai 2006.

Warna itu belum populer yah, karena waktu itu saya memang senang. Media saya sebelumnya pakai cat minyak dan sebagainya. Kemudian saya coba-coba dari serbuk gergaji, terutama dari limbah, itu untuk produk-produk stasionary saya coba untuk melukis karena waktu itu memang belum ada, belum populer. Disamping itu memang medianya gampang didapat.

Joko Dwiyono Menembus Pasar Internasional dengan Cangkang Telur

(Antara)-Cangkang telur yang sering kita anggap sampah, ternyata dapat dijadikan kerajinan unik yang bernilai jual tinggi, dan menembus pasar dunia. Berawal dari ide yang tidak disengaja, Teguh Joko Dwiyono telah memulai usaha cangkang telur sejak 18 tahun lalu, dan berhasil mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia sebagai pelopor seni lukis dengan bahan kulit telur pertama di Indonesia. Published on Sep 14, 2016.

Siapa yang tak kenal telur. Ya, bahan makanan yang satu ini tentu sudah tidak asing lagi. Namun tahukah anda, jika cangkang telur yang sering kita anggap sampah ternyata dapat dijadikan kerajinan unik dan mendunia.

Bermula dari ide saat menginjak cangkang telur bekas isterinya memasak nasi goreng, Teguh Joko Dwiyono mulai berpikir bahwa cangkang telur memiliki nilai seni yang tinggi. Berlokasi di Rawamangun, Jakarta Timur, Dwiyono telah berkreasi dengan cangkang telur sejak 1998 lalu. Dengan menempelkan cangkang telur di media kayu, kramik, serta kanvas, hingga memunculkan nilai seni yang indah tanpa merubah warna asli dari cangkang telur. Dipasarkan mulai harga 10 ribu hingga puluhan juta rupiah, produk dari cangkang telur ini telah mendunia.

Sejarah Desa Jelekong


Halo pemirsa !! Jumpa lagi dalam program kesayangan kita, Indi: Indonesia Mandiri. Akan memberikan inspirasi bagi keluarga Indonesia tuk terus mandiri membangun negeri.

Pemirsa, bila anda berjalan di sepanjang jalan Braga, anda tentu melihat deretan lukisan yang dipajang disana kan. Ternyata sebagian besar lukisan tersebut diproduksi di 1 desa loh.

Rivan dan Mustopa, Pelukis muda asal Kampung Jelekong


Rivan, Pelukis, “Karena keinginan gituh, pengen memajukan budaya yang ada disini juga seperti seni melukis ini. Jadi kan turun temurun kan. Jadi pengen gitu lah, enggak pengen punah gitu lah. Seni lukis ini.”

Mustopa, pelukis, “Hobi melukis dari kecil. Itu waktu melihat teman melukis, jadi pengen gituh. Coba melukis.”

Sentuhan tangan-tangan kreatif para pelajar dari Jember untuk berbagai limbah


Siapa sangka ?? Berbagai jenis limbah seperti kulit telur, kulit jagung ataupun daun kering bisa menjadi karya artistik dan berdaya guna. Dengan sentuhan tangan-tangan kreatif dari para pelajar dari Jember, bondowoso, situbondo, dan banyuwangi. Bahan-bahan alam tersebut diolah dan dirangkai dalam lomba karya cipta etnobiologi 2016 yang diadakan fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam, Universitas Jember.

Tak hanya limbah bahan alam saja, limbah non degradable atau sampah yang tidak dapat diurai secara biologi juga dimanfaatkan oleh para peserta, seperti limbah gelas dan botol plastik air minum mineral dan limbah plastik lainnya.