Pages

Monday, March 5, 2018

Rivan dan Mustopa, Pelukis muda asal Kampung Jelekong


Rivan, Pelukis, “Karena keinginan gituh, pengen memajukan budaya yang ada disini juga seperti seni melukis ini. Jadi kan turun temurun kan. Jadi pengen gitu lah, enggak pengen punah gitu lah. Seni lukis ini.”

Mustopa, pelukis, “Hobi melukis dari kecil. Itu waktu melihat teman melukis, jadi pengen gituh. Coba melukis.”

Rivan, Pelukis, “Kalau saya mah, pengen desa saya jadi tempat pariwisata. Bikin jadi masuk ke dalam seni, kayak bangsa Ponorogo. Pengen seperti itu lah. Jadi cabang lukisannya jadi pengen masuk impor dunia, gitu lah. Internasional, pengennya saya.”

Berapa lama selesaikan 1 lukisan ?
Rivan, Pelukis, “1 hari sih. Kalau tidak sekolah, 1 hari mah sudah beres. 2 kadang, yang sebesar ini 2. Habis itu, jadi perasaan kita di spesifik kan di lukisan. Jadi ekspresi kita lagi gimana, gimana, bisa diekspresikan jadi lukisan kayak gini.”

Mustopa, pelukis, “Melukis itu sebuah karya seni yang turun temurun.”


Video:





Foto:



Published on Aug 4, 2016 SUGIHARTO PURNAMA Siang itu seusai jam sekolah, sejumlah pemuda menyibukkan diri dengan kain kanvas dalam sebuah workshop lukisan di Kampung Jelekong, Baleendah, Kabupaten Bandung. Mereka meramu beragam cat dari warna-warna dasar, perlahan mereka pun menggoreskan kuas berlumuran gincu itu ke atas sketsa bermotif kuda.  “Ini menjadi keinginan saya untuk terus melestarikan seni melukis agar tidak punah dari kampung ini,” kata Rivan Nur Iman (16 tahun), salah seorang pelukis muda dari Kampung Jelekong.  Awalnya pada tahun 1871 kampung ini disebut Keswadayaan Majalaya. Menurut cerita, dahulu ada kakek Tionghoa yang berdiam di kampung tersebut. Jelekong diambil dari kata Jeleg “diam” dan Engkong “kakek Tionghoa”.  Kini Jelekong merupakan salah satu daerah wisata budaya terkenal di Jawa Barat. Kampung ini memiliki puluhan studio dan ratusan seniman. Uniknya keahlian melukis dipelajari secara turun-temurun.  “Harapan saya, kampung Jelekong dikenal hingga ke mancanegara,” kata siswa kelas XI tersebut.
Rivan dan Mustopa, Pelukis muda asal Kampung Jelekong

Published on Aug 4, 2016 SUGIHARTO PURNAMA Siang itu seusai jam sekolah, sejumlah pemuda menyibukkan diri dengan kain kanvas dalam sebuah workshop lukisan di Kampung Jelekong, Baleendah, Kabupaten Bandung. Mereka meramu beragam cat dari warna-warna dasar, perlahan mereka pun menggoreskan kuas berlumuran gincu itu ke atas sketsa bermotif kuda.  “Ini menjadi keinginan saya untuk terus melestarikan seni melukis agar tidak punah dari kampung ini,” kata Rivan Nur Iman (16 tahun), salah seorang pelukis muda dari Kampung Jelekong.  Awalnya pada tahun 1871 kampung ini disebut Keswadayaan Majalaya. Menurut cerita, dahulu ada kakek Tionghoa yang berdiam di kampung tersebut. Jelekong diambil dari kata Jeleg “diam” dan Engkong “kakek Tionghoa”.  Kini Jelekong merupakan salah satu daerah wisata budaya terkenal di Jawa Barat. Kampung ini memiliki puluhan studio dan ratusan seniman. Uniknya keahlian melukis dipelajari secara turun-temurun.  “Harapan saya, kampung Jelekong dikenal hingga ke mancanegara,” kata siswa kelas XI tersebut.
Rivan dan Mustopa, Pelukis muda asal Kampung Jelekong

Published on Aug 4, 2016 SUGIHARTO PURNAMA Siang itu seusai jam sekolah, sejumlah pemuda menyibukkan diri dengan kain kanvas dalam sebuah workshop lukisan di Kampung Jelekong, Baleendah, Kabupaten Bandung. Mereka meramu beragam cat dari warna-warna dasar, perlahan mereka pun menggoreskan kuas berlumuran gincu itu ke atas sketsa bermotif kuda.  “Ini menjadi keinginan saya untuk terus melestarikan seni melukis agar tidak punah dari kampung ini,” kata Rivan Nur Iman (16 tahun), salah seorang pelukis muda dari Kampung Jelekong.  Awalnya pada tahun 1871 kampung ini disebut Keswadayaan Majalaya. Menurut cerita, dahulu ada kakek Tionghoa yang berdiam di kampung tersebut. Jelekong diambil dari kata Jeleg “diam” dan Engkong “kakek Tionghoa”.  Kini Jelekong merupakan salah satu daerah wisata budaya terkenal di Jawa Barat. Kampung ini memiliki puluhan studio dan ratusan seniman. Uniknya keahlian melukis dipelajari secara turun-temurun.  “Harapan saya, kampung Jelekong dikenal hingga ke mancanegara,” kata siswa kelas XI tersebut.
Rivan dan Mustopa, Pelukis muda asal Kampung Jelekong


No comments:

Post a Comment

Komentar adalah segalanya bagi penulis. Deretan susunan kalimat, entah itu pro atau pun kontra. Interaksi tersebut, bagaimanapun juga bertujuan menciptakan diskusi yang membangun. Dan saya, Clenoro Suharto, merasakan manfaat itu. Terima kasih kepada teman-teman yang telah memberikan komentar pada blog https://rakyatjelataindonesiarajin.blogspot.com/